my space tracking

Monday, August 29, 2011

1000 bangau 100 balon

Kriiing kriiing kriiing ...
Suara itu, suara yang selalu membangunkan seorang gadis bermata biru. Namanya Aurelita Bagaskara.
"Pagi sayang! Sudah bangun ya!" dia Gilang Bagaskara, kakak yang selalu setia menemani adik satu-satunya itu. Dengan sigap Gilang membuka tirai kamar Aurel dan membereskannya. Aurel hanya diam, duduk termenung di pinggir ranjang, sambil sesekali memperhatikan kakaknya.
"Cepat mandi gih, kakak tunggu. Nggak pakek lama lho ya." Gilang mencubit hidung mancung Aurel. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan semuanya. Kini Aurel sudah siap dengan pakaian casualnya.
"Kita berangkat yuk. Takut nanti kesiangan." Gilang menggendong tubuh mungil Aurel dan meletakkannya di jok depan di samping Gilang.
Beberapa menit kemudian, taman berbunga itu telah ada di depan mereka. Taman yang selalu Aurel gunakan untuk refresing, mengembalikan "semuanya".
Tiba-tiba "Kakak tinggal dulu ya rel, handphone kakak ketinggalan. Kamu nggak papa kan kalau kakak tinggal sebentar." kata Gilang sambil mengusap lembut rambut Aurel.

***
"Gue nggak mau denger lo ngomong sekali lagi. Bodoh amat ama lo. Gue mau lo jangan pernah ganggu gue lagi." bentak gue pada Siska, mantan cewek gue. Udah hampir 6 bulan gue jadian sama dia, tapi tak ada kebahagiaan yang gue dapat dari dia.

Bersambung...

titik-titik kehidupan

Tuhan, aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Tak pernah sedetikpun aku tak melamun, meratapi hidupku yang hanya biasa-biasa saja. FLAT. Ya, kata itu sangat tepat untuk menggambarkan kehidupanku. Selama 17 tahun aku hidup, jujur saja aku tak pernah bisa mengartikan apa itu arti sahabat, apa itu arti cinta, dan apa itu arti kehidupan. Pernah terpikir oleh ku apa yang aku lakukan itu semua hanya sia-sia.
Aku pernah merasa iri dengan kehidupan teman-teman di sekitarku. Aku merasa kehidupan mereka di penuhi banyak sekali warna, tapi aku. Arrgh... Aku tak bisa menggambarkannya.
Kalau kau tanya bagaimana kehidupan asmaraku, kau hanya akan mendapat satu jawaban dariku, 'nggak usah bahas itu lagi'. Aku sendiri bingung apa sih mau ku. Setiap kali ada orang yg dekat denganku, setiap kali juga orang itu menjauh dari ku. Emangnya ada yang salah ya sama aku.
(short story)Beberapa hari yang lalu ada seorang lelaki yang menelepon ku. Jujur saja aku tak pernah tau siapa dia, bagaimana sifatnya, bagaimana wajahnya, aku tak pernah tau. Awalnya aku nyaman saat aku dekat dengan dia, tak tau kenapa lama-kelamaan aku merasa nggak ngeh ma dia. Aku pikir dia udah mulai berubah. Sekilas ada keinginan ku untuk melupakan dia. Tapi semakin lama aku ingin menghindar semakin sulit aku melakukannya. Ah, sudah lupakan saja.
Aku lelah, letih, lesu, lunglai.

To be continue